>
Saat ini pusat perhatian dunia kembali kepada benua Afrika. Afrika benua yang sampai saat ini terus bergejolak dan masih terus didera oleh berbagai macam krisis; konflik berdarah (baik terkait perebutan kekuasaan ataupun konflik antarsuku atau atas nama agama), kemiskinan dan kelaparan, tingkat kesehatan yang rendah (ditambah dengan kasus penyebaran HIV dan gizi buruk), permasalahan ekonomi yang cukup rumit dan berbagai hal-hal lainnya. Terfokus terhadap konflik perebutan kekuasaan yang sampai saat ini masih menjadi isu panas dinegara-negara Afrika, maka kita dapat melihat berbagai contoh yang masih sanga baru sebut saja Sudan, Pantai Gading, dan yang terpenting adalah Libya.
Mengapa Libya menjadi yang terpenting dari segala negara Afrika saat ini? Libya menjadi penting karena “Barat” menganggapnya penting. Semua negara penting, akan tetapi hanya negara-negara kuat dan negara yang terhubung kepadanya (dalam artian yang berhadapan dengannya dalam suatu konflik) yang menarik perhatian dunia dan akan menuliskan sejarah dunia. Ya, sejarah ditulis oleh pemenang, pahlawan dan oleh orang-orang yang berhasil selamat dari sebuah peristiwa.
Mengapa Libya penting di mata negera-negara Barat? ada banyak hal yang membuat Libya penting dimata negara Barat. Disini hanya akan dibahas beberapa saja. Yang pertama sekali ialah posisi geografis Libya. Libya memiliki letak geografis yang sangat penting; Libya adalah bagian dari benua Afrika yang terkoneksi langsung dengan dunia Arab dan lautan Mediterania yang bersebrangan langsung dengan Eropa. Libya merupakan daerah persimpangan yang penting secara geopolitik. Libya bisa dikatakan negara Afrika yang sukses dalam pembangunan dan kestabilan rejim dan pemimpinnya saat ini Moamar Qaddafi merupakan seorang kepala negara yang cukup berpengaruh di Afrika. Yang kedua ialah ‘Oil Question’. Minyak yang dikandung oleh tanah Libya sangat berharga, bukan hanya kerena jumlah kandungannya yang cukup besar, akan tetapi juga karena keunikan karekteristik minyak Libya. Pakar minyak Armand Hammer menyebutkan minyak Libya sebagai “the world’s only irreplaceable oil”. Minyak Libya dikenal sebagai “sweet crude oil’ yang memiliki kualitas yang sangat tinggi. Banyak pabrik penyulingan minyak di Eropa terutama di Italy yang dibangun khusus untuk menyuling minyak Libya, bukan minyak yang lainnya. selain hal-hal diatas masih banyak hal-hal lainnya terkait Libya yang menjadi pusat perhatian negara barat terutama masalah demokratisasi, hak asasi manusia, terorisme, arus imigran gelap dari Afrika ke Eropa dll. Tulisan ini akan sedikit menggali pemikiran lainnya tentang arti penting Libya bagi Amerika Serikat. Hanya bagi Amerika Serikat, satu-satunya negara Superpower yang tersisa di percaturan politik dunia.
Ada suatu hal tentang Libya yang mungkin sangat penting hanya jika dilihat dari kacamata Amerika Serikat, dan tidak akan terlihat penting bagi negara-negara barat lainnya. Hal itu ialah hegemoni Libya atas benua Afrika. Jika kita lihat dipeta perpolitikan dunia saat ini, hanya ada satu hegemon kontinental didunia yaitu Amerika Serikat atas benua Amerika. Tidak ada hegemon di Eropa (setidaknya Jerman dan Russia atau Uni Soviet pernah mencoba dan berakhir dengan dua perang dunia dan perang dingin), belum ada hegemon di Asia, walaupun isu kebangkitan ekonomi China dan peran penting China dalam ASEAN+3 sangat mengkhawatirkan Amerika serikat, dan sampai saat ini belum ada hegemon continental di benua Afrika. Hegemon continental sangat penting karena berhubungan dengan ‘balancing of power’ dalam sistem politik dunia yang multipolar atau bipolar, ataupun untuk menjaga keberlangsungan system unipolar saat ini. Bisa dikatakan system politik dunia ini sangat tergantung pada komposisi hegemon continental yang ada.
Dalam sejarah benua Amerika, bisa dikatakan tidak ada perang yang begitu besar dalam pencapaian Amerika Serikat sebagai hegemon di benua Amerika. Sejak Revolusi Amerika pada abad ke 18, tidak ada kekuatan yang sanggup menandingi Amerika Serikat dibenua Amerika. Sejarah Eropa mencatat bahwa dalam sistem multipolar pada abad 19 dan paruh awal abad ke 20, sistem balance of power antar negara-negara Eropa berlangsung terus dengan bantuan Amerika serikat sebagai ‘offshore balancer’. Tidak ada perang perebutan hegemoni di Eropa (setidaknya pada abad 20) yang tidak melibatkan Amerika serikat. Perang Dunia pertama, keterlibatan Amerika serikat pada masa-masa akhir ketika pihak sekutu sudah kesulitan menghadapi Jerman, membalikkan keadaan hingga akhirnya petualangan Jerman yang berambisi menjadi hegemon di Eropa berakhir seketika. Begitu juga dengan Perang Dunia kedua yang merupakan perang untuk menghancurkan dua calon hegemon yaitu sekali lagi Jerman Nazi di Eropa dan Kerajaan Jepang di Asia Pasifik. Dalam Sejarah Asia, sejarah Jepang dalam Perang Asia Pasifik untuk menjadi hegemon di Asia berakhir dengan buruk: dua buah bom atom dijatuhkan di Jepang. Walaupun pada saat ini Jepang telah bangkit dengan perekonomiannya, akan tetapi secara politis politik luar negeri Jepang bisa dikatakan berada dibawah asuhan Amerika serikat. Mungkin yang menjadi satu-satunya perhatian Amerika serikat di Asia hanyalah ‘the rising of China’. kebangkitan ekonomi China sangat mengkhawatirkan Amerika serikat terutama apabila dilihat secara politis China tidak termasuk kedalam aliansi politik Amerika Serikat. Sementara itu dalam sejarah Afrika hanya tercatat perang antar imperialis Eropa memperebutkan wilayah jajahan dan perang kemerdekaan dalam proses dekolonisasi pada pertengahan abad ke 20.
Perhatian Amerika Serikat terhadap Libya telah dimulai sejak awal berkuasanya Qaddafi. Qaddafi yang dijuluki ‘the mad dog of the Middle East’ oleh Ronald Reagen pada tahun 1970an, membawa negaranya menjadi pusat perhatian dunia. Krisis minyak pada 1970an merupakan salah satu karya Qaddafi yang pada saat itu membujuk negara penghasil minyak di Arab untuk mensabotase penjualan minyak sampai disetujuinya kenaikan harga minyak, dan tindakan ini mengakibatkan kenaikan harga minya dunia yang sangat signifikan pada saat itu. Keuntungan penjualan minyak dari kenaikan harga minyak menjadi kekuatan Libya dalam menjalankan politiknya. Qaddafi mensponsori dan mendukung baik dana dan personil bagi beberapa pemimpin rejim di Afrika seperti Charles Taylor di Liberia, Foday Sankoh di Sierra Leone. Qaddafi bisa dikatakan menciptakan pemimpin-pemimpin Afrika dan dia pula yang kemudian membantu para pemberontak untuk menggulingkan para pemimpin tersebut. Keterkaitan Qaddafi dengan aksi terorisme juga merupakan perhatian dunia. Qaddafi diduga terlibat dalam pendanaan berbagai kegiatan terorisme di dunia dan bahkan diduga terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, yang paling terkenal ialah peristiwa pemboman pesawat Pan Am pada tahun 1988 di Lockerbie, yang diduga berdasarkan perintah langsung dari Qaddafi dan sejak saat itu menolak menyerahkan para pelaku pemboman hingga pada tahun 1999. Sejak tahun 1999 Libya mulai membangun hubungan yang baik dengan dunia barat dan Amerika Khususnya. Normalisasi hubungan dengan dunia barat membawa pengaruuh yang baik bagi perkembangan perekonomian dan pembangunan di Libya.
Amerika serikat kembali terusik dengan sebuah perkembangan baru di Afrika. Pada tahun 2009 ketika Qaddafi oleh karena berdasarkan giliran menduduki kursi pimpinan Africa Union, beliau mencetuskan sebuah ide pembentukan ‘The United States of Africa’. Sebuah konfederasi yang menurut Qaddafi akan membawa bangsa Afrika yang bersatu menjadi kekuatan yang sebanding dengan negara kuat dibelahan dunia lainnya. Amerika serikat yang selalu terusik dengan ide-ide hegemon kontinental saingan kembali memusatkan perhatiannya kepada Libya. Walaupun negara-negara Afrika tidak mendukung ide Qaddafi ini, akan tetapi ia tetap banyak melaksanakan manuver politik untuk terlaksananya ide tersebut. Qaddafi mendekati raja-raja suku, yang walaupun hanya memiliki kekuasaan informal di Afrika, untuk mendapatkan dukungan dan sampai saat ini usaha ini kelihatan cukup berhasil. Amerika Serikat memandang Libya sangat mungkin untuk menjadi hegemon di Afrika, baik Libya dalam bentuk sebuah negara sendiri maupun Libya sebagai pilar utama konfederasi (seperti halnya Russia dalam kerangka Uni Soviet), karena Libya mampu untuk itu dan berniat untuk itu.
Amerika Serikat berharap dengan menggulingkan Qaddafi, niatan untuk menjadi hegemon Afrika terkubur bersama runtuhnya rejim Qaddafi. Akan tetapi Amerika cukup berhati-hati untuk tidak terjebak seorang diri dalam usahanya ini, karena dukungan dunia dalam aksi kali ini sangat penting bagi terjaminnya keberhasilan misi ini, terlebih lagi dengan jejak buruk Amerika Serikat dalam invasi Iraq dan Afganistan yang menghasilkan permasalahan yang berlarut-larut bagi Amerika Serikat. banyak pihak menyayangkan keterlambatan PBB dalam memutuskan Non flying Zone resolution. Akan tetapi keterlambatan tersebut bagi Amerika Serikat sebanding dengan Aliansi dan dukungan yang didapat dalam melancarkan misi ini. Amerika tidak mau tergesa-gesa untuk terjun kedalam perang kali ini, dan mungkin yang terakhir dalam mengumumkan kebijakan perang dari negara-negara barat yang berpartisipasi dalam perang kali ini. Amerika lebih membiarkan NATO bertindak lebih awal dan seakan memimpin dalam misi kali ini, karena memang negara negara NATO telah jelas sekali mengusung permasalahan-permasalahan seperti hak asasi manusia, demokratisasi ataupun ‘hidden oil question’ dalam krisis Libya. Setidaknya ‘African hegemony question’ tidak tersentuh sejak dari awal, sebab jika mungkin tersentuk bukan tidak mungkin membangkitkan ‘African identity’ dan solidaritas diantara negara-negara afrika. Hal ini sangat penting dikarenakan negara-negara Afrika banyak yang masih dihantui oleh trauma imperialisme barat. berkembangnya isu-isu ancaman kembalinya hegemoni barat di tanah Afrika ataupun isu negara barat menghalangi kemajuan Afrika dengan cara menghalangi kesatuan Afrika adalah hal yang sangat dihindari oleh negara barat untuk boleh berkembang di Afrika. Negara Afrika yang kuat harus berada dikantong aliansi Amerika Serikat, jika tidak bisa dijadikan aliansi, maka satu-satunya jalan ialah melemahkan kekuatan tersebut. Kegagalan di Afrika kali ini akan menimbulkan batu sandungan lainnya, setelah China di Asia, bagi Amerika serikat dalam menjaga system unipolar saat ini.
Saat ini pusat perhatian dunia kembali kepada benua Afrika. Afrika benua yang sampai saat ini terus bergejolak dan masih terus didera oleh berbagai macam krisis; konflik berdarah (baik terkait perebutan kekuasaan ataupun konflik antarsuku atau atas nama agama), kemiskinan dan kelaparan, tingkat kesehatan yang rendah (ditambah dengan kasus penyebaran HIV dan gizi buruk), permasalahan ekonomi yang cukup rumit dan berbagai hal-hal lainnya. Terfokus terhadap konflik perebutan kekuasaan yang sampai saat ini masih menjadi isu panas dinegara-negara Afrika, maka kita dapat melihat berbagai contoh yang masih sanga baru sebut saja Sudan, Pantai Gading, dan yang terpenting adalah Libya.
Mengapa krisis Libya menjadi yang terpenting dari segala negara Afrika saat ini? Libya menjadi penting karena “Barat” menganggapnya penting. Semua negara penting, akan tetapi hanya negara-negara kuat dan negara yang terhubung kepadanya (dalam artian yang berhadapan dengannya dalam suatu konflik) yang menarik perhatian dunia dan akan menuliskan sejarah dunia. Ya, sejarah ditulis oleh pemenang, pahlawan dan oleh orang-orang yang berhasil selamat dari sebuah peristiwa.
Mengapa Libya penting di mata negera-negara Barat? ada banyak hal yang membuat Libya penting dimata negara Barat. Disini hanya akan dibahas beberapa saja. Yang pertama sekali ialah posisi geografis Libya. Libya memiliki letak geografis yang sangat penting; Libya adalah bagian dari benua Afrika yang terkoneksi langsung dengan dunia Arab dan lautan Mediterania yang bersebrangan langsung dengan Eropa. Libya merupakan daerah persimpangan yang penting secara geopolitik. Libya bisa dikatakan negara Afrika yang sukses dalam pembangunan dan kestabilan rejim dan pemimpinnya saat ini Moamar Qaddafi merupakan seorang kepala negara yang cukup berpengaruh di Afrika. Yang kedua ialah ‘Oil Question’. Minyak yang dikandung oleh tanah Libya sangat berharga, bukan hanya kerena jumlah kandungannya yang cukup besar, akan tetapi juga karena keunikan karekteristik minyak Libya. Pakar minyak Armand Hammer menyebutkan minyak Libya sebagai “the world’s only irreplaceable oil”. Minyak Libya dikenal sebagai “sweet crude oil’ yang memiliki kualitas yang sangat tinggi. Banyak pabrik penyulingan minyak di Eropa terutama di Italy yang dibangun khusus untuk menyuling minyak Libya, bukan minyak yang lainnya. selain hal-hal diatas masih banyak hal-hal lainnya terkait Libya yang menjadi pusat perhatian negara barat terutama masalah demokratisasi, hak asasi manusia, terorisme, arus imigran gelap dari Afrika ke Eropa dll. Tulisan ini akan sedikit menggali pemikiran lainnya tentang arti penting Libya bagi Amerika Serikat. Hanya bagi Amerika Serikat, satu-satunya negara Superpower yang tersisa di percaturan politik dunia.
Ada suatu hal tentang Libya yang mungkin sangat penting hanya jika dilihat dari kacamata Amerika, dan tidak akan terlihat penting bagi negara-negara barat lainnya. Hal itu ialah hegemoni Libya atas benua Afrika. Jika kita lihat dipeta perpolitikan dunia saat ini, hanya ada satu hegemon continental didunia yaitu Amerika Serikat atas benua Amerika. Tidak ada hegemon di Eropa (setidaknya Jerman dan Russia atau Uni Soviet pernah mencoba dan berakhir dengan dua perang dunia dan perang dingin), belum ada hegemon di Asia, walaupun isu kebangkitan ekonomi China dan peran penting China dalam ASEAN+3 sangat mengkhawatirkan Amerika serikat, dan sampai saat ini belum ada hegemon continental di benua Afrika. Hegemon continental sangat penting karena berhubungan dengan ‘balancing of power’ dalam sistem politik dunia yang multipolar atau bipolar, ataupun untuk menjaga keberlangsungan system unipolar saat ini. Bisa dikatakan system politik dunia ini sangat tergantung pada komposisi hegemon continental yang ada.
Sejarah benua Amerika bisa dikatakan tidak ada perang yang begitu besar dibenua Amerika dalam pencapaian Amerika Serikat sebagai hegemon di benua Amerika. Sejak Revolusi Amerika pada abad ke 18, tidak ada kekuatan yang sanggup menandingi Amerika Serikat dibenua Amerika. Sejarah Eropa mencatat bahwa dalam sistem multipolar pada abad 19 dan paruh awal abad ke 20, sistem balance of power antar negara-negara Eropa berlangsung terus dengan bantuan Amerika serikat sebagai ‘offshore balancer’. Tidak ada perang perebutan hegemoni di Eropa (setidaknya pada abad 20) yang tidak melibatkan Amerika serikat. Perang Dunia pertama, keterlibatan Amerika serikat pada masa-masa akhir ketika pihak sekutu sudah kesulitan menghadapi Jerman, membalikkan keadaan hingga akhirnya petualangan Jerman yang berambisi menjadi hegemon di Eropa berakhir seketika. Begitu juga dengan Perang Dunia kedua yang merupakan perang untuk menghancurkan dua calon hegemon yaitu sekali lagi Jerman Nazi di Eropa dan Kerajaan Jepang di Asia Pasifik. Dalam Sejarah Asia, sejarah Jepang dalam Perang Asia Pasifik untuk menjadi hegemon di Asia berakhir dengan buruk: dua buah bom atom dijatuhkan di Jepang. Walaupun pada saat ini Jepang telah bangkit dengan perekonomiannya, akan tetapi secara politis politik luar negeri Jepang bisa dikatakan berada dibawah asuhan Amerika serikat. Mungkin yang menjadi satu-satunya perhatian Amerika serikat di Asia hanyalah ‘the rising of China’. kebangkitan ekonomi China sangat mengkhawatirkan Amerika serikat terutama apabila dilihat secara politis China tidak termasuk kedalam aliansi politik Amerika Serikat. Sementara itu dalam sejarah Afrika hanya tercatat perang antar imperialis Eropa memperebutkan wilayah jajahan dan perang kemerdekaan dalam proses dekolonisasi pada pertengahan abad ke 20.
Perhatian Amerika Serikat terhadap Libya telah dimulai sejak awal berkuasanya Qaddafi. Qaddafi yang dijuluki ‘the mad dog of the Middle East’ oleh Ronald Reagen pada tahun 1970an, membawa negaranya menjadi pusat perhatian dunia. Krisis minyak pada 1970an merupakan salah satu karya Qaddafi yang pada saat itu membujuk negara penghasil minyak di Arab untuk mensabotase penjualan minyak sampai disetujuinya kenaikan harga minyak, dan tindakan ini mengakibatkan kenaikan harga minya dunia yang sangat signifikan pada saat itu. Keuntungan penjualan minyak dari kenaikan harga minyak menjadi kekuatan Libya dalam menjalankan politiknya. Qaddafi mensponsori dan mendukung baik dana dan personil bagi beberapa pemimpin rejim di Afrika seperti Charles Taylor di Liberia, Foday Sankoh di Sierra Leone. Qaddafi bisa dikatakan menciptakan pemimpin-pemimpin Afrika dan dia pula yang kemudian membantu para pemberontak untuk menggulingkan para pemimpin tersebut. Keterkaitan Qaddafi dengan aksi terorisme juga merupakan perhatian dunia. Qaddafi diduga terlibat dalam pendanaan berbagai kegiatan terorisme di dunia dan bahkan diduga terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, yang paling terkenal ialah peristiwa pemboman pesawat Pan Am pada tahun 1988 di Lockerbie, yang diduga berdasarkan perintah langsung dari Qaddafi dan sejak saat itu menolak menyerahkan para pelaku pemboman hingga pada tahun 1999. Sejak tahun 1999 Libya mulai membangun hubungan yang baik dengan dunia barat dan Amerika Khususnya. Normalisasi hubungan dengan dunia barat membawa pengaruuh yang baik bagi perkembangan perekonomian dan pembangunan di Libya.
Amerika serikat kembali terusik dengan sebuah perkembangan baru di Afrika. Pada tahun 2009 ketika Qaddafi oleh karena berdasarkan giliran menduduki kursi pimpinan Africa Union, beliau mencetuskan sebuah ide pembentukan ‘The United States of Africa’. Sebuah konfederasi yang menurut Qaddafi akan membawa bangsa Afrika yang bersatu menjadi kekuatan yang sebanding dengan negara kuat dibelahan dunia lainnya. Amerika serikat yang selalu terusik dengan ide-ide hegemon kontinental saingan kembali memusatkan perhatiannya kepada Libya. Walaupun negara-negara Afrika tidak mendukung ide Qaddafi ini, akan tetapi ia tetap banyak melaksanakan manuver politik untuk terlaksananya ide tersebut. Qaddafi mendekati raja-raja suku, yang walaupun hanya memiliki kekuasaan informal di Afrika, untuk mendapatkan dukungan dan sampai saat ini usaha ini kelihatan cukup berhasil. Amerika Serikat memandang Libya sangat mungkin untuk menjadi hegemon di Afrika, baik Libya dalam bentuk sebuah negara sendiri maupun Libya sebagai pilar utama konfederasi (seperti halnya Russia dalam kerangka Uni Soviet), karena Libya mampu untuk itu dan berniat untuk itu.
Amerika Serikat berharap dengan menggulingkan Qaddafi, niatan untuk menjadi hegemon Afrika terkubur bersama runtuhnya rejim Qaddafi. Akan tetapi Amerika cukup berhati-hati untuk tidak terjebak seorang diri dalam usahanya ini, karena dukungan dunia dalam aksi kali ini sangat penting bagi terjaminnya keberhasilan misi ini, terlebih lagi dengan jejak buruk Amerika Serikat dalam invasi Iraq dan Afganistan yang menghasilkan permasalahan yang berlarut-larut bagi Amerika Serikat. banyak pihak menyayangkan keterlambatan PBB dalam memutuskan Non flying Zone resolution. Akan tetapi keterlambatan tersebut bagi Amerika Serikat sebanding dengan Aliansi dan dukungan yang didapat dalam melancarkan misi ini. Amerika tidak mau tergesa-gesa untuk terjun kedalam perang kali ini, dan mungkin yang terakhir dalam mengumumkan kebijakan perang dari negara-negara barat yang berpartisipasi dalam perang kali ini. Amerika lebih membiarkan NATO bertindak lebih awal dan seakan memimpin dalam misi kali ini, karena memang negara negara NATO telah jelas sekali mengusung permasalahan-permasalahan seperti hak asasi manusia, demokratisasi ataupun ‘hidden oil question’ dalam krisis Libya. Setidaknya ‘African hegemony question’ tidak tersentuh sejak dari awal, sebab jika mungkin tersentuk bukan tidak mungkin membangkitkan ‘African identity’ dan solidaritas diantara negara-negara afrika. Hal ini sangat penting dikarenakan negara-negara Afrika banyak yang masih dihantui oleh trauma imperialisme barat. berkembangnya isu-isu ancaman kembalinya hegemoni barat di tanah Afrika ataupun isu negara barat menghalangi kemajuan Afrika dengan cara menghalangi kesatuan Afrika adalah hal yang sangat dihindari oleh negara barat untuk boleh berkembang di Afrika. Negara Afrika yang kuat harus berada dikantong aliansi Amerika Serikat, jika tidak bisa dijadikan aliansi, maka satu-satunya jalan ialah melemahkan kekuatan tersebut. Kegagalan di Afrika kali ini akan menimbulkan batu sandungan lainnya, setelah China di Asia, bagi Amerika serikat dalam menjaga system unipolar saat ini.