Inverbrackie Detention Centre

Inverbrackie Detention Centre (image from Adelaidenow.com.au)

Inverbrackie terletak di daerah Adelaide Hills, tidak begitu jauh dari pemukiman Jerman Handorfh yang terkenal dengan pemandangannya yang indah. Detention centre ini baru saja dibuka oleh Department of Immigration and Citizenship (DIAC) untuk menampung low risk irregular maritime arrival yang tidak tertampung di Christmas Island. IDC merupakan bekas kompleks perumahan tentara 16th Air defence regiment yang sudah tidak dipakai. DIAC menggandeng perusahaan sevice privat SERCO untuk merubah kompleks ini menjadi immigration detention centre dan juga perawatan, seluruh pengamanan, infrastruktur dan pelaksanaan keseluruhan detention centre ini.

Petugas DIAC yang menyambut kami disana menjelaskan bahwa hanya ada kurang lebih 13 orang petugas imigrasi yang bekerja disana. Semuanya hanya bertugas mengurus masalah keimigrasiannya. Sementara itu pada saat itu ada sekitar 150an orang pegawai SERCO yang bertugas menjalankan fasilitas ini. Jumlah petugas SERCO akan bertambah seiring bertambahnya penghuni kompleks detensi itu. Seperti pada saat itu tercatat ada 50an orang penghuni (termasuk anak dan wanita), dan direncanakan akan segera datang 50 orang lagi IMA yang akan ditransfer dari Christmas Island. Hal ini tentunya akan otomatis menambah pegawai SERCO yang akan bertugas.

Inverbrackie mempunyai kapasitas penampungan maksimal 400 orang yang semuanya low risk client. Low risk client ini biasanya adalah refugee yang berkeluarga (ayah, ibu dan anak) yang sudah mendekati tahap memperoleh protection visa. Sebagian mereka adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi tinggi seperti dokter, pengacara, atau businessman di negara asal mereka, akan tetapi minim penguasaan bahasa Inggris. Setiap Rumah yang ada dikompleks itu dialokasikan untuk menampung 3-4 keluarga. Fasilitas sangat lengkap mulai dari fasilitas kesehatan, ruang hiburan, internet bagi penghuni, lapangan olahraga, ruang untuk pelajaran dan kursus yang rutin diadakan bagi refugee dan taman terbuka untuk menerima tamu atau keluarga refugee yang datang berkunjung.

Fasilitas yang terdapat disana tergolong mewah untuk ukuran fasilitas detensi (jika dibandingkan dengan Indonesia). Hal ini cukup masuk akal jika kita memperhatikan kebijakan imigrasi Australia. Australia lebih memilih sistem Offshore humanitarian intake, yang artinya bahwa mereka lebih memilih mengambil refugee dari tempat-tempat penampungan refugee di Indonesia, Malaysia, atau tempat lainnya ketimbang memprosesnya sendiri Onshore. Menurut kebijakan pengecualian Christmas Island, kepulauan Pasir dan pulau-pulau terluar Australia lainnya dari zona keimigrasian, maka setiap orang yang datang menggunakan kapal dan mendarat secara ilegal (tidak memiliki visa) dipulau-pulau ini dianggap sebagai irregular maritime arrival (IMA). Akan tetapi, dikarenakan jumlah kapal IMA yang terus meningkat, kapasitas Christmas Island yang tidak mencukupi, dan juga tekanan publik Australia yang besar terhadap kesejahteraan para deteni tersebut, maka para IMA yang dianggap Low risk dan memiliki kemungkinan besar diterima akan ditransfer ke fasilitas ini.

Refugee yang ditampung di fasilitas ini diperlakukan dan dibiasakan untuk mengenal kehidupan Australia. Anak-anak disekolahkan disekolah publik berbaur dengan anak-anak Australia lainnya, walaupun ditempatkan dalam kelas yang berbeda untuk penerimaan pelajaran yang semuanya disebabkan oleh kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Akan tetapi untuk olahraga dan kesenian, mereka berbaur dengan anak Australia lainnya.

SERCO mengadakan banyak kegiatan setiap hari bagi para refugee untuk mengenalkan mereka kepada kebudayaan Australia. Kelas bahasa Inggris adalah yang paling diminati. Memang setiap refugee disini dituntut untuk menguasai bahasa Inggris dengan cepat dan lancar agar mempermudah mereka untuk berbaur ke masyrakat nantinya, terutama untuk mencari pekerjaan.

Petugas imigrasi disana menerangkan bahwa para penghuni disana tidak pernah mengeluh tentang keadaan detensi ini. Satu-satunya yang mereka keluhkan hanya lambatnya keluar kepastian tentang status mereka. Akan tetapi menurutnya ada juga beberapa keluarga yang telah selesai mendapat status refugee dan mendapat tawaran bridging visa dari DIAC masih enggan untuk keluar. Hal ini mungkin karena diluar sana mereka harus mensupport keluarga mereka sendiri, sementara mereka sulit untuk mendapat pekerjaan karena kemampuan bahasa inggris yang minim. Akhirnya mereka ada yang memilih untuk bertahan sembari meningkatkan kemapuan bahasa Inggrisnya.

Pemerintah Australia berusaha mempersiapkan maksimal para refugee disini untuk siap masuk kemasyarakat. Bukan sekadar lepas dan akhirnya menjadi beban akan tetapi harus juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan perekonomian Australia. Tidak heran mereka berinvestasi begitu besar dalam penanganan refugee yang akan mereka terima.

Tinggalkan komentar