
Hari ini memenuhi panggilan untuk membuat e-KTP di kecamatan. Datang setelah istirahat makan siang dengan harapan antrian akan berkurang, akan tetapi ternyata di meja resapsionis telah terdapat dua tumpukan lembar undangan: tumpukan pertama adalah sisa dari sesi sebelum istirahat siang, dan tumpukan yang kedua adalah lembar undangan dari orang-orang yang datang setelah sesi makan siang.
Dengan berat hati, terpaksa aku meletakkan lembar undangan di bagian paling bawah dari tumpukan yang kedua, dan mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Setelah memperhatikan suasana, terasa sedikit kejanggalan. Ternyata tumpukan undangan lebih banyak daripada orang-orang yang menunggu untuk dipanggil.
Duduk disebelah bapak yang datang dengan keluarganya, entah datang dari RW mana, tetapi yang jelas bapak itu lumayan terpandang. Mengapa saya berkesimpulan seperti itu? Karena semenjak beberapa menit duduk disebelahnya banyak orang yang menyapa bapak dan keluarganya dengan sikap yang sangat hormat. Bahka ada yang sampai setengah membungkuk segala, seperti penghormatan kepada pemuka agama yang sangat dihormati.
Bapak tersebut dengan sedikit mengeluh mencoba membuka pembicaraan dengan saya dan berkata bahwa ‘ada permainan’ di pembuatan e-ktp ini. Ia berkata bahwa para RT bermain dengan para petugas kecamatan dengan cara membawa undangan warganya secara kolektif dan menitip antrian, sehingga ketika warganya datang nanti seakan warga tersebut adalah orang-orang yang telah datang sedari tadi pagi.
Saya hanya manut saja mendengar bapak tersebut, dan tersenyum mengangguk membenarkan perkataan bapak itu. Kemudian kami tidak berbicara apa-apa lagi. Hanya berdiam sambil menunggu nama kami dipanggil.
Setelah lebih satu setengah jam tidak dipanggil juga (sejak saya datang), terlihat istri dari bapak disebelah saya itu mulai gelisah tidak sabaran. Kemudian ibu tersebut masuk ke dalam kantor kecamatan. Beberapa menit kemudian bapak tersebut juga menyusul, kemudian keduanya kembali duduk di tempat semula.
Dalam hati saya berpikir mungkin mereka mengecek keadaan didalam. Tak lama kemudian keluarlah seorang ibu petugas kecamatan ke meja resepsionis. Ibu tersebut kemudian mecari-cari sesuatu di tumpukan undangan yang kedua (yang datang setelah istirahat makan siang) dan kemudian menemukan selembar kertas undangan. Setelah memegang undangan tersebut, ibu tersebut memberikan kode kepada keluarga bapak yang disebelah saya tersebut. Tanpa ragu-ragu bapak beserta keluarganya masuk ke ruang kecamatan.
Teringat perkataan bapak tersebut sebelumnya saya hanya tertawa dalam hati. Benar sekali ‘ada permainan’ dalam proses pembuatan e-ktp, dan bapak tersebut sudah memberikan contoh yang sangat jelas bagi saya.
Bukan menyoroti tentang ‘permainan’ didalam proses birokrasi di Indonesia ini. Hal ini sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Akan tetapi saya hanya menyoroti perilaku masyarakat kita yang seringkali ‘munafik’. Sering masyarakat kita mengutuk PNS dan birokrat yang terlibat KKN, akan tetapi kita tetap ikut dalam proses menyuburkan KKN.
Ibarat hukum pasar, penawaran dan permintaan, selagi ada permintaan, akan selalu ada pihak yang berusaha mengambil keuntungan dengan mengadakan penawaran dan menyediakan komoditi yang diminta. Oleh sebab itu untuk reformasi birokrasi terutama dalam hal pemberantasan gratifikasi dan pungli, kita juga harus juga menyasar ‘pasar’ atau ‘konsumen’ dari proses tersebut yaitu masyarakat, bukan hanya PNS atau para pejabat publik.
Masyarakat harus juga diberi kesadaran untuk bersabar mengikuti setiap tahapan proses birokrasi: menghilangkan faktor ‘permintaan’ sehingga pada akhirnya akan menghilangkan ‘penawaran’. Apabila para tetap saja ada ‘permintaan’ akan sulit sekali bagi para pejabat publik untuk melakukan tugasnya dengan baik, terutama bagi para petugas yang integritas pribadinya masih lemah.
Bapak yang tadi telah memberikan contoh terbaik akan sulitnya masyarakat kita untuk menghilangkan faktor ‘permintaan’. Para pemuka masyarakat yang kita hormati harus terdepan dalam memberikan contoh untuk merubah perilaku masyarakat kita yang cenderung suka ‘jalan pintas’.
Semoga masyarakat kita bisa ikut serta mendukung proses reformasi birokrasiyang tengah digalakkan oleh pemerintah.
E-KTP