Berita politik negeri ini kembali bergulir dengan berita terbaru: Ruhut Sitompul dipecat dari Partai Demokrat. Bukan alasan mengapa dia dipecat ataupun intrik politik yang melatarbelakangi pemecatannya yang akan dibahas ditulisan ini, akan tetapi perilaku kader-kader Demokrat diseputar pemecatan Ruhut Sitompul.
Menurut berita yang beredar di media massa, putusan pemecatannya sudah keluar sekitar bulan September tahun ini, akan tetapi menurut pengakuan Ruhut, ia belum mengetahui perihal pemecatan dirinya secara resmi dari Partai Demokrat. Menurut Ruhut ia mengetahui dirinya dipecat dari media massa. Terlepas dari benar atau tidaknya hal ini, hal tersebut telah menimbulkan tanda tanya besar.
Perihal pemecatan Ruhut baru muncul dimedia massa beberapa bulan kemudian, dan diwarnai dengan kejadian pengusiran Ruhut Sitompul dari arena SILATNAS Partai Demokrat beberapa hari lalu. Di Televisi ditayangkan bagaimana kader-kader Demokrat dengan kemarahan yang meluap-luap menggiring Ruhut keluar dari arena sidang. Beberapa kader mengecam habis-habisan Ruhut karena dianggap pengkhianat partai yang secara terang-terangan mengkritik Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
Sama seperti ketika Ruhut, dalam beberapa tahun terakhir di Partai Demokrat, membela Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY, demikian juga terlihat perilaku para kader ketika menghujat Ruhut saat itu dan membela Anas Urbaningrum.
Kita menyadari bahwa Partai Demokrat memang besar karena figur SBY. Figur SBY sebagai presiden yang berhasil memenangkan partai ini dalam 2 pemilu terakhir. akan tetapi 2014 SBY tidak bisa dipilih lagi menjadi Presiden, dan figur siapa lagi yang akan dimamfaatkan sebagai lem perekat dan penguat partai Demokrat.
Sebagai partai yang modern, memang Partai Demokrat pernah mencanangkan visi anti korupsi: “katakan tidak pada KKN” sebagai image partai. Akan tetapi kasus korupsi yang menjegal beberapa kader Partai Demokrat memupuskan kepercayaan rakyat pada visi Partai Demokrat yang bebas KKN. Terlebih lagi dengan pemecatan Ruhut Sitompul yang selama ini dengan keras menyerukan anjuran agar Anas Urbaningrum mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat karena diduga terlibat beberapa kasus KKN.
Jika kita melihat kepartaian di Amerika Serikat, kita bisa melihat bahwa 2 partai: Republik dan Demokrat adalah partai-partai yang memiki karakter yang kuat dan tidak pernah bergantung pada satu figur tertentu. Partai-partai tersebut secara jelas dan tegas menampilkan karakter partai yang permanen. Republik dengan karakternya yang religius dan konservatif, sementara Demokrat dengan karakter yang secular dan moderat. Siapa pun calon presiden yang mereka usung, pasti dipilih yang mewakili karakter partai masing-masing. Apapun masalah nasional yang terjadi, rekomendasi pemecahan dari tiap-tiap partai akan mencerminkan cara pandang yang khas dari setiap partai yang pastinya akan berbeda sesuai dengan karakter partai tersebut.
Kembali ke Partai Demokrat di Indonesia. Kehilangan figur pemimpin untuk 2014 — dan munculnya kemungkinan pemujaan figur baru Anas Urbaningrum yang secara politis elektabilitasnya di Pemilu 2014 sangat mengkhawatirkan, dibarengi dengan gagalnya pembentukan image Partai Demokrat sebagai partai yang anti KKN, memang menimbulkan prediksi bahwa Partai Demokrat akan tamat di 2014.
Sudah saatnya Partai Demokrat meng-edukasi para kadernya untuk melepaskan perilaku yang mengelu-elukan satu figur tertentu dan beralih ke pembentukan suatu karakter khas partai yang bisa menjadi image dari Partai Demokrat. Mungkin bila setiap kader Demokrat kembali fokus ke visi anti KKN dan mengembangkan karakter pribadi yang bebas KKN, mereka tidak akan terlalu pusing memecat kader-kader partai yang bersebrangan dengan ketua umum partai terutama berkaitan dengan komitmen terhadap visi anti KKN yang coba mereka usung.
Saya pernah baca komentar seseorang, konon pemecatan Ruhut karena dia sosok yang besar mulut, banyak omong (semoga dalam hal postif :D) tapi Ruhut ga mau (ga berani) korupsi, jadi daripada mungkin rahasia partai bocor ya dipecatlah si Ruhut :D.
SukaSuka