Semenjak KPU menetapkan [hanya] 2 pasang calon Presiden dan Wakil Presiden dalam pemilihan umum presiden 2014, suhu di republik ini seakan naik beberapa derajat hingga hampir menyentuh batas akhir toleransi kerukunan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Bukan hendak menyalahkan, akan tetapi hanya sekedar memperhatikan situasi dan kondisi yang terlahir dari proses yang sedang berlangsung.
Seorang saudara bercerita bahwa kelompok pertemanan mereka yang selalu kompak ketika nongkrong [dan minum-minum] bareng, terpecah ketika membicarakan siapa yang harusnya mereka pilih dalam pemilu 9 Juli nanti.
Ada juga keluarga yang ayahnya pro Jokowi sedangkan ibunya pro Prabowo. yang mungkin juga biasanya nonton TV bareng diruang tengah, semenjak pemilu ini akhrnya menonton TV secara terpisah: ayah menonton Metrotv di ruang tengah, sedangkan ibu menonton TVone di kamar tidur.
Yang saya sangat rasakan ialah ketika chat group yang biasanya berisi kabar, humor bahkan ejek-ejekan sekarang berubah menjadi tempat perdebatan calon presiden.
Menarik memang membahas calon-calon presiden yang akan kita pilih nanti. Perdebatan jika dilakukan dengan sehat dan dengan penuh keakraban akan menyenangkan. Kita kebanyakan hanya punya waktu mempelajari secara mendalam hanya salah satu pasangan capres saja kan, oleh karena itu sarana perdebatan akan menambah pengetahuan kita akan pasangan capres yang lainnya. Hal ini bisa saja menambah keyakinan kita untuk tetap memilih pasangan capres andalan kita, atau sebaliknya menimbulkan keraguan dan kemudian memutarbalikkan pilihan kita sebelumnya.
Apapun hasilnya, proses ini merupakan proses pembelajaran politik yang sangat berharga bagi diri kita masing-masing yang secara tidak sengaja kita alami.
Perdebatan ini seharusnya memberikan pelajaran kepada kita minimal tentang beberapa hal, yaitu:
1. Toleransi terhadap perbedaan: terutama perbedaan pandangan politik;
2. Keilkhlasan: dimana jika jagoan kita nanti tidak terpilih kita harusnya sudah siap untuk menerima itu dengan lapang dada.
3. Meninggalkan apatisme politik: Partisipasi kita diperlukan untuk menjadikan proses pemilu yang demokratis ini menjadi lebih hidup dan berhasil. Perdebatan sekecil apapun adalah bukti bahwa rakyat masih memiliki keinginan untuk berpartisipasi aktif dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara. dengan begitu siapapun yang terpilih nanti akan mendapat kontrol yang ketat dari seluruh rakyat [minimal dari para partisan pasangan capres yang kalah].
Akhirnya, setelah mengikuti perdebatan yang cukup panjang di group chat hari ini, dan mempertimbangkan bahwa 9 Juli masih lama, saya memutuskan untuk menganjurkan kepada teman-teman warga group chat saya untuk cool down, dan bersabar menunggu tanggal pencoblosan.
cuma satu pesan saya: supaya masing-masing kita berdoa pada saat mencoblos nanti, agar presiden terpilih nanti akan melakukan seluruh kewajibannya dan tanggung jawabnya sebagai presiden RI, sebagaimana kita telah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai rakyat dalam melakukan partisipasi aktif dalam proses pemilu dan tidak golput.