
Seekor ulat hijau di pucuk daun sebuah pohon jeruk yang kecil tiba-tiba berhenti makan. Ulat itu terdiam sejenak ketika dilihatnya kempompong yang mulai terkoyak.
Kepompong itu tergantung di tangkai kering yang pasti dulunya adalah daun jeruk yang hijau.
“Kakak tertua akan segera menjadi kupu-kupu”, ulat itu girang sekali. Ia sebenarnya tidak kenal siapa dulu ulat yang sekarang adalah kepompong yang akan menetas itu. Tapi hatinya tahu bahwa kelak ia akan mengikuti langkah yang sama seperti kepompong itu.
Ulat itu kembali melanjutkan makannya dengan lahap, tapi pandangannya tidak lepas dari kepompong yang perlahan begerak-gerak.
“Kakak…., kakak…. Rupamu begitu indah” teriak ulat itu kepada kupu-kupu yang baru saja meregangkan sayapnya dan beranjak meninggalkan kepompongnya.
“Siapa kamu? Kamu ulat jelek memanggilku kakak? Pergilah kembali makan yang banyak. Kelak jika kamu sudah menjadi kupu-kupu yang indah baru temui aku!” kupu-kupu itu terus terbang meninggalkan si ulat yang terpana mendengar jawaban kupu-kupu itu.
Ulat itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mengambil makna dari kejadian yang baru saja dialaminya. Apakah kupu-kupu itu berubah jadi sombong? Ataukah yang dikatakan kupu-kupu itu adalah hal yang alami adanya.
Ulat itu merasa terluka diperlakukan seperti itu, tapi di dalam hatinya timbul keraguan, apakah Ia akan juga pada akhirnya, tanpa ia sadari, akan bertindak sama seperti kupu-kupu tadi kepada ulat-ulat yang lain.
Ia tidak yakin akan bisa tetap ramah kepada ulat-ulat yang lain ketika pada suatu saat ia juga mengalami perubahan yang begitu dashyat. “Keanggunan dan keelokan yang baru itu pasti akan membuatku sombong” batinnya.
Akan tetapi rasa sakit hatinya saat ini, sangat menekan. Ulat itupun memutuskan untuk berhenti makan. “Aku tidak mau berubah, dan supaya tidak berubah aku harus berhenti makan”.
Setelah berhenti makan, ternyata badannya yang dulu gemuk, berubah jadi kurus. Nafasnya yang dulu kencang memburu ketika menjelajahi daun-daun, kini berat dan tersenggal. Hingga pada tarikan nafasnya yang paling berat ulat itu bergumam lirih untuk terakhir kali “semua pasti berubah”.
kisah yang sangat bagus. selain menarik, ceritanya juga mengajak kita merenung.
SukaSuka