Virus

Mahluk tua itu sangat buas. Ia sudah berkeliaran di permukaan bumi, sejak abad purbakala sampai di masa modern saat ini. Dan ia akan terus menduduki permukaan bumi sampai akhir jaman nanti.

John di Patmos telah melihatnya dua ribu tahun yang lalu. Ia melihatnya sebagai binatang buas yang berbisa yang bersama-sama dengan pedang, kelaparan, dan segala penyakit yang berbahaya lainnya akan menjadi kombinasi yang mematikan bagi seperempat jumlah manusia di bumi.

Saat ini kita mengenalnya lebih dekat lagi melalui teror yang di bawanya. Ia sangat buas. Kehadirannya dapat memicu kekacauan. Sehingga manusia akan mengangkat pedang terhadap manusia lain. Kekacauan yang diakibatkannya akan menimbulkan kelaparan yang hebat di berbagai tempat, akibat tidak berjalannya roda perekonomian yang terhenti sejak kemunculannya di tempat itu.

Dan kekacauan ini menjadi semakin parah karena penyakit biasa yang dialami kebanyakan manusia akan berdampak fatal kematian jika terkena campur tangan binatang buas ini. Ia menebar teror kematian yang sangat mencekam, terlebih karena binatang tua ini tidak dapat kita lihat secara kasat mata.

Tapi manusia juga diberikan hikmat dan pengetahuan untuk bertahan menghadapinya. Manusia diperlengkapi dengan kemampuan dasar untuk terus belajar guna menaklukkan bumi. Insting untuk bertahan hidup dan belajar mengatasi tantangan adalah gambaran kasih Penciptanya kepada Manusia. Tselem yang menjadi bekal manusia untuk menaklukkan bumi.

Binatang tua yang buas ini tidak dapat dikalahkan dengan pengetahuan saja, tapi harus dengan kombinasi hikmat juga.

Manusia diajar dan dipaksa untuk berhikmat dalam menghadapi binatang tua ini. Karena terornya akan merusak sendi-sendi hubungan kemanusiaan, dan juga merusak hikmat manusia dalam berpengharapan pada Sang Pencipta.

Binatang tua ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia perlu mengejar kualitas asal seperti ketika Adam belum jatuh ke dalam dosa.

Demuth yang sehati dan sepikiran dengan penciptanya. Hikmat yang terus diasah menuju kesempurnaan.

Menuju kesempurnaan kembali melalui perpaduan tselem dan demuth.

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Tinggalkan komentar