
“Gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”
Kata-kata di atas kita kenal sebagai pepatah bijak yang biasa diajarkan oleh orang tua atau guru kita untuk mengajarkan bagaimana pentingnya kehormatan bagi seorang manusia.
Gading gajah adalah bagian dari tubuh gajah yang bernilai tinggi di pasar, begitu juga dengan kulit harimau yang belang-belang itu. Setelah gajah atau harimau mati maka gading gajah dan kulit harimau yang baik akan menjadi barang yang berharga bagi manusia.
Bagaimana dengan manusia?
Sampai saat ini, tidak ada bagian dari tubuh manusia yang secara etis dapat diberikan harga setelah kematiannya. Nilai manusia setelah kematiannya hanyalah kenangan orang atas segala kebaikan, jasa, tindakan keberanian ataupun kesuksesan yang diraih nya semasa hidupnya. Dan orang akan mengingat namanya karena kenangan akan hal-hal hebat itu.
Permasalahannya sekarang ialah: banyak orang yang seakan tidak memikirkan bagaimana setelah kematiannya namanya akan di kenang oleh orang lain.
Banyak orang berpandangan bahwa kehormatan yang paling penting adalah penghormatan yang dialaminya selama ia hidup. Kehormatan yang bisa didapat melalui kekayaan, kepopuleran, atau kesuksesan selama ia hidup.
Tapi apakah kehormatan yang didapatnya selama ia hidup itu bisa menjamin ia mati secara terhormat dan dikenang oleh manusia lain yang masih hidup bahkan jauh sampai di masa-masa yang akan datang?
Mempertahankan nama baik dan kehormatan sampai hari kematian mungkin saja lebih sulit daripada ketika berusaha mendapatkan kehormatan itu. Banyak orang sukses dan terhormat, berubah dan bertindak secara tidak terhormat ketika kekuasaan, kekayaan atau kenyamanannya terganggu.
Gajah dan harimau, bagaimanapun cara matinya, gading dan kulitnya tetaplah berharga, tetapi manusia itu sebaliknya. Sebaik dan se-terhormat apapun manusia selama hidupnya, jika pada masa-masa akhir hidupnya ia tergelincir dan membuat kesalahan yang fatal, maka akhirnya nama baiknya akan rusak. Nama yang rusak itu lah yang akan diingat oleh kebanyakan orang.
Kita dapat menyebutkan banyak nama tokoh yang diingat karena kesalahan di masa akhir hidupnya, walaupun semasa hidupnya mereka adalah orang yang terhormat baik karena kekayaan, kesuksesan, jasa baik dan pencapaian yang luar biasa. Malin Kundang salah satu contohnya. Mungkin masing-masing kita dapat menyebutkan lebih banyak nama lagi, terutama tokoh-tokoh yang dekat dengan kehidupan kita di masa kini.
Dengan apa kita dapat memperbaiki nama yang rusak? Jawabannya ialah dengan hidup lebih lama lagi dan berbuat baik lebih banyak lagi sampai kita kelak menghembuskan nafas akhir.
Permasalahannya adalah apakah sisa umur kita akan cukup lama untuk kita dapat memperbaiki nama yang telah rusak tersebut? Seberapa banyak, besar dan hebatnya perbuatan yang dapat dilakukan dalam sisa umur ini untuk memperbaiki nama yang telah rusak?
Benarlah kalimat bijak yang mengatakan bahwa mempertahankan lebih sulit daripada meraih sesuatu. Dapat kita simpulkan juga bahwa menjaga agar tidak rusak lebih mudah daripada memperbaiki atau mengobati.