
Apakah yang membatasi antara yang diperbolehkan dengan yang terlarang?
Apakah yang memisahkan kebaikan dari kejahatan?
Apakah yang membedakan kekudusan dengan keberdosaan?
Tidak ada ruang kosong diantaranya.
Tidak ada area abu-abu diantaranya.
Tidak ada gradasi atau perpotongan diantaranya.
Kedua realitas yang sangat bertolak belakang tersebut hanya di batasi oleh prinsip.
Prinsip…,
Bukan aturan yang tertulis di buku-buku hukum.
Bukan kebiasaan yang diterima oleh masyarakat,
Bukan pula nilai yang diwariskan oleh nenek moyang.
Tapi prinsip adalah suara yang berteriak keras di dalam hatimu, ketika kau ada di persimpangan keputusan.
Perasaan yang di tempatkan oleh Tuhanmu jauh di dalam sanubari…
Suara hati nurani yang selalu mencari arti dari setiap perbuatan. Apakah dengan ini aku menyenangkan hati Tuhanku?
Hai nuraniku…. Jadikan aku menjadi ‘manusia yang memegang teguh prinsip’.
Ya di atas yang ya, atau tidak di atas yang tidak.
Tidak lebih dari itu.