
Dari milyaran bahkan tidak terhingga jumlahnya galaksi di semesta ini, hanya Bimasakti galaksi yang menjadi semesta terdekat bagi manusia. Semesta yang dapat diamati dalam keseharian manusia.
Dari setidaknya dua ratus milyar bintang di galaksi Bimasakti, hanya matahari satu-satunya bintang yang secara langsung dapat menjadi pusat kehidupan manusia. Bintang yang setiap hari mempengaruhi hari-hari manusia. Bintang yang membawa perubahan musim yang berbeda-beda di bagian bola bumi yang berbeda pula.
Dari milyaran manusia yang ada di bumi ini yang semuanya sama-sama memandang ke matahari yang sama, dan juga sama-sama menghela nafas dengan menikmati oksigen dari selubung atmosfer yang sama, hanya ada aku yang adalah diriku, dan hanya kamu yang adalah dirimu. Masing-masing dengan keunikan kita masing-masing.
Kita tidak bisa memilih, mengapa hanya galaksi bimasakti?
Tidak bisa pula mempertanyakan mengapa hanya satu matahari, tidak ada dua atau tiga bintang lain juga?
Aku dan kamu juga tidak bisa mengelak, bahwa aku adalah aku, kamu adalah kamu. Masing-masing sebagai pribadi yang berbeda. Tidak ada aku yang lain diantara milyaran manusia lainnya. Begitu juga kamu, hanya kamu.
Aku tidak bisa memilih semestaku. Aku tidak memilih matahariku. Aku juga tidak bisa memilih diriku sendiri. Aku juga tidak bisa menentukan dimana di bumi ini aku dilahirkan, dan dari siapa. Kamu-pun juga begitu.
Tapi setidaknya kini, dari ketidakberdayaanku ini, aku memberanikan diriku untuk memilih satu-satunya hal yang mungkin aku tentukan sendiri dalam kehidupan ini.
Aku ingin bersamamu selalu. Aku memilih untuk menghabiskan waktu bersamamu.
Aku ingin engkau menjadi semestaku, di mana aku mengembara menikmati luasnya hidup.
Aku ingin engkau menjadi matahariku, yang menyinari hari-hari hidupku. Yang setia memberikan aku musim-musim di hidupku. Baik yang panas menyakitkan ataupun yang hangat menggelora. Yang mengadakan musim yang dingin, yang menusuk tulangku, dan juga musim yang segar yang menumbuhkan merah, kuning, hijaunya bunga-bunga dihatiku.
Aku juga ingin menjadi semesta dan matahari bagimu.
Aku ingin kau menjadi pelengkapku, dimana kekuranganku dan kelebihanmu dan juga sebaliknya, bisa saling melengkapi. Engkau menjadi penolongku yang sepadan, dan aku juga bagimu.
Aku memilih kamu untuk menemaniku sampai akhir waktu, yang juga tidak bisa kita tentukan sampai kapan.
Sampai maut, yang juga tidak bisa kita tentukan kapan dan bagaimana datangnya, akhirnya memisahkan kita.
Maukah kau menjadi pendamping hidupku?