Kesabaran

Bagaimanakah aku harus bersabar?


Sejauh mana harus kuletakkan batasan kesabaranku? Apakah sejauh cakrawala? Cakrawala yang hanya bisa kita lihat tapi tidak bisa kita hampiri?


Sebesar apa hatiku harus bersabar?

Apakah sebesar matahari atau bintang terbesar lainnya di galaksi ini? Ataukah harus seluas semesta ini, dimana bimasakti hanya seperti butiran debu?


Selama apa hatiku harus bersabar?

Bolehkah kesabaranku dibatasi waktu, misalnya sampai hanya sampai sebelum matahari terbenam? Atau sampai pada akhir suatu periode tertentu di hidupku ini?


Jika aku mengatakan bahwa batas kesabaranku sudah habis, atau aku mengatakan  bahwa aku sudah bosan bersabar, apakah berarti itu aku telah mengkhianati kesabaran itu sendiri?


Ketenangan dan kesetiaan untuk bertahan, terhapus oleh ego dan pikiran mau menang sendiri atau pikiran untuk menyelamatkan diri dari penderitaan. Ego yang kita permaklumkan sebagai batas kesabaran.


Ya, kesabaran selalu dikhianati oleh ego diri sendiri, bukan oleh orang lain.


Memang bersabar terkadang terlihat bodoh karena itu berarti membiarkan diri terluka. Tetapi tahukah kamu bahwa dengan mengalaskan kesabaran dengan ketulusan hati dan memayungi kesabaran dengan kasih yang selalu memaafkan, bisa dibuktikan bahwa kesabaran itu sejatinya tanpa batas?


Apakah kita tidak tahu bahwa Tuhan telah mengajari kita tentang kesabaran yang luar biasa melalui teladan-Nya? Di kekekalan-Nya Tuhan selalu bersabar terhadap seluruh mahluk ciptaannya. Bahkan penghakiman terakhir-pun bukanlah batasan kesabaran-Nya.


Hati manusia yang fana ini cuma diminta untuk bersabar sampai hembusan nafas terakhir saja, tidak lebih.

Tinggalkan komentar