Kekanak-kanakan

Masa kanak-kanak adalah suatu masa yang paling indah bagi kebanyakan manusia.

Dunia seakan lebih terasa lebih indah pada waktu kita masih kecil.

Banyak yang berpendapat hal itu karena pada masa kanak-kanak kita banyak melihat hal-hal baru yang membuat kita takjub.

Banyak pengalaman pertama yang indah-indah.

Akan tetapi sampai kita dewasapun sebenarnya banyak hal-hal baru yang kita temui sepanjang hari. Akan tetapi, hal itu tidak membuat kita takjub sama seperti ketakjuban seorang anak-anak.

Mengapa?

Apakah pengalaman baru itu tidak lagi mengesankan bagi akal pemikiran dewasa kita?

Apakah kedewasaan kita ini telah membunuh keceriaan dan kegembiraan natural yang ada dihati kita?

Sudah sebegitu memalukankah bagi seorang yang dewasa untuk mengekspresikan ketertarikan dan kegembiraannya secara spontan?

“Ia terlalu kekanak-kanakan!”

“Biasa aja kali!”

Tapi sebenarnya di hati kecil kita orang-orang yang selalu mengagungkan sikap kedewasaan ini, terselip kerinduan akan ketulusan, kejujuran dan spontanitas ekspresi dari diri kanak-kanak kita.

Ekspresi yang hilang entah kemana.

Atau mungkin sebenarnya kita menyembunyikannya terlalu jauh di sudut terkecil, tergelap dan tersunyi di hati kita ini.

Ketika alam kedewasaan kita menganggap bahwa perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan yang baru kita alami harus dihadapi dengan keseriusan dan kepantasan tertentu, kita kehilangan kesempatan untuk menikmati pengalaman baru tersebut dengan kejujuran perasaan kita.

Tawa ceria, ekspresi keterkejutan, dan tangis haru bahagia, saat ini hanya kita terungkap dalam tayangan konten media online atau acara televisi.

Kita menjadi terlalu asing dengan kejujuran ekspresi.

Alam kedewasaan ini telah menjadi dunia yang membosankan.

Dunia yang suram tanpa pelangi.

Dunia yang datar tanpa gunung dan lembah.

Dunia yang sunyi tanpa nyanyian yang ceria.

Tetapi sekaligus juga adalah dunia yang bising tanpa jeda keheningan yang melegakan.

Dunia yang riuh dengan ombang-ambing badai yang ganas, tanpa desiran ombak kecil di tepi pantainya.

Apakah kau dengar seruan itu?

Itu adalah ajakan untuk menyaksikan sebuah pengalaman baru yang hanya bisa dinikmati oleh hati yang tulus, setulus hati kanak-kanak kita dulu.

Dengar Ia berseru: “Biarkanlah anak-anak itu datang untuk mendengarkan dan mengalami, dan janganlah kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang akan memiliki kebahagiaan yang kekal di sorga nanti”

Tinggalkan komentar