Salah Mengerti

Rambutmu yang putih beruban adalah mahkota yang celang cemerlang.

Keusangan yang menjadi pertanda kearifan dan kebijaksanaan.

Kerutan dan guratan di dahimu yang keriput merupakan pameran jejak pergulatan pemikiran yang hebat dan berkepanjangan.

Berlaksa kalimat dan nasihat disarikan dan dititipkan kepada pemuda dan pemudi.

Kalimat-kalimat perumpamaan dan perandaian yang menyembunyikan bermacam arti dan tujuan.

Tetapi kami penerusmu gagal memahami arti itu.

Tujuan yang kau arahkan tidak dapat dilihat gambarannya dengan jelas.

Kearifanmu, para tetua kami terdahulu, seperti tersembunyi di tingginya awan, tidak dapat terjangkau oleh anak-anak manusia yang masih menjejak di permukaan bumi.

Wahai para tetua kami, dari mana datangnya hikmat marifat itu?

Siapa yang dapat membimbing agar kami dapat mengerti?

Karena kami telah salah mengerti tentang dasar-dasar kehidupan, dan akhirnya merusak sendi-sendi kehidupan ini.

Bagaimana kami harus menggali arti dan tujuan kehidupan ini?

Rambut putih dan kerutan di dahi tua kami, hanya sekedar hiasan yang diberikan zaman yang telah berlalu.

Tiada kehormatan dan kebanggaan yang tersirat, karena hikmat kami dangkal dan pengertian kami melenceng!

Di tengah kekalutan dan kebimbangan hati, kami kembali teringat akan nasihat tua itu.

Katamu, “takut akan Tuhan adalah permulaan dari hikmat dan pengetahuan”.

Tetapi, apakah kami ternyata telah salah mengerti tentang bagaimana “takut akan Tuhan” itu, sehingga hikmat kami bagaikan lelucon, dan pengetahuan kami tidak berbuah?

Tolonglah kami, karena kami telah menyimpang dan salah mengerti tentang segala hal!

Tinggalkan komentar