
Ayah dan Ibu, selamat pagi!
Aku sering mengganggu tidurmu.
Tangisanku menjeda istirahatmu.
Rasa haus dan laparku kau turuti dengan sabar, kau jadikan tanggung jawab tanpa berkeluh kesah.
Ayah dan Ibu, selamat siang!
Permainanku adalah juga kesibukanmu.
Sekolah, pendidikan dan pengetahuanku menjadi tujuan hidupmu.
Cita-cita masa kecilku menjadi mimpi-mimpi di tidur malammu.
Akan tetapi siang ini, kebodohan dan kebebalanku juga menjadi tangismu.
Kekeraskepalaanku kau jadikan sebagai pelajaran kesabaranmu.
Sifat sok tahuku, selalu kau hadapi dengan kerelaan mu menanggung akibatnya.
Kemudian selalu kau akhiri dengan nasihat tentang tanggung jawab dan arti kehidupan.
Ayah dan Ibu, selamat petang!
Aku putuskan sudah waktunya harus meninggalkanmu.
Kehidupan memerintahkanku untuk berjalan sendiri.
Walaupun begitu, senyummu mengatakan bahwa:
Pekerjaanku yang tidak terlalu sukses, sudah cukup membahagiakanmu.
Pasangan hidupku yang tidak selalu menyenangkan hatimu, adalah kelegaan hatimu, karena kau percaya, pertolongan yang tepat dan sepadan akan selalu ada bagiku.
Ayah dan Ibu, selamat malam!
Nasihatmu di ambang tidurku kembali terngiang:
“Anak yang bijak mendatangkan sukacita pada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya”.
Aku tidak tahu, apakah aku selama ini memberikanmu sukacita ataukah kedukaan.
Sampai saat inipun aku rasa aku tidak dapat memulihkan tangis dan lelahmu itu.
Aku hanya berharap cucu-cucumu pernah membangkitkan kembali senyuman di wajah keriputmu.
Maafkan anakmu ini.
Semoga istirahatmu tenang.