
Dalam cerita ketika bangsa Israel mulai memasuki dan menduduki tanah Kanaan dikisahkan bahwa Tuhan berfirman kepada nabi-Nya Musa untuk memerintahkan kepada bangsa Israel untuk membuat batas-batas wilayah mereka sesuai dengan yang ditetapkan Tuhan.
Akan tetapi ada keanehan, dimana, jika batas wilayah keseluruhan itu ditetapkan oleh Tuhan, maka selanjutnya Tuhan hanya menetapkan nama orang yang harus menjadi pemutus yang menentukan pembagian tanah-tanah tersebut bagi seluruh bangsa Israel. Tuhan menetapkan Imam Eleazer dan Yosua bin Nun untuk menjadi orang yang bertanggungjawab untuk menetapkan besarnya wilayah-wilayah yang akan diundi diantara kaum-kaum suku Israel. Selanjutnya, Tuhan juga menetapkan nama-nama satu orang pemimpin dalam setiap suku-suku Israel untuk bertugas membagikan tanah tersebut diantara keluarga dalam satu suku.
Kalau kita melihat bahwa tugas yang diemban oleh Imam Eleazar dan Yosua bin Nun serta pemimpin-pemimpin suku-suku Israel itu sungguhlah suatu tugas yang berat.
Ada seloroh yang menggambarkan tentang beratnya tugas ini, yaitu “dari seluruh pelajaran matematika; perkalian, penjumlahan, dan sebagainya, yang paling sulit adalah pelajaran tentang pembagian”. Hal ini terbukti banyak orang yang merasa tidak puas jika ada pembagian tetang sesuatu hal.
Ada pemimpin yang dituding tidak adil dan serakah, karena dianggap tidak adil dalam membagi rejeki. Banyak terjadi perselisihan dalam keluarga yang bermula dari pembagian harta warisan orangtua yang telah tiada. Tidak hanya bagi-bagi rezeki atau barang materil yang sering bermasalah, bahkan pembagian tugaspun sering bermasalah. Ada yang merasa kebagian tugas yang lebih berat daripada yang lainnya, dan seterusnya.
Tentunya pikiran manusia kita berpikir bahwa tindakan Tuhan yang hanya menetapkan pemimpin yang diberikan tugas untuk membagi-bagi ini berpotensi menimbulkan kekacauan dan konflik horizontal diantara kaum-kaum suku Israel. Kenapa sih Tuhan yang Maha Tahu dan Maha bijaksana tidak berfirman saja apa yang menjadi bagian tiap-tiap keluarga?
Saya tidak bisa membayangkan, berapa lama tugas pembagian ini harus diselesaikan oleh para pemimpin suku itu untuk membagi-bagi tanah diantara keluarga-keluarga suku-suku Israel. Apakah ada konflik yang muncul dari perasaan tidak puas oleh beberapa keluarga dan bagaimana para pemimpin tersebut menyelesaikannya.
Mungkin jika Tuhan berfirman dan membagi habis diantara seluruh ribuan keluarga suku Israel pada waktu itu, hal itu menjadi hal yang sangat mudah. Akan tetapi kalau kita mencoba menimbang-nimbang alasan Tuhan tidak berlaku seperti itu kita juga dapat memahami rencana besar Tuhan bagi bangsa Israel.
Bangsa Israel waktu itu adalah sebuah bangsa yang masih sangat muda, sebelum Nabi Tuhan Musa, belum pernah ada pemimpin besar yang memimpin bangsa itu, dan ketika akan memasuki Tanah Kanaan, Nabi Musa juga tidak akan selamanya menjadi pemimpin mereka. Tuhan merancang agar bangsa yang muda ini mulai membentuk suatu sistem kemasyarakatan, dimana ada orang yang harus belajar menjadi pemimpin dan anggota suku-suku itu juga harus belajar untuk dapat dipimpin. Tugas yang diberikan untuk menjadi skema pembelajaran tidak tanggung-tanggung, langsung yang paling berat dan berpotensi besar konflik: bagi-bagi tanah.
Setiap pemimpin yang ditunjuk tersebut mungkin setiap hari harus menghadapi dilema dalam membagi-bagi. Tidak ada perintah langsung dan petunjuk dari Tuhan berapa hektar untuk keluarga tertentu dan berapa hektar untuk keluarga yang lainnya. Dalam proses ini, sepertinya Tuhan mau mengajarkan bahwa setiap pemimpin harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, agar pikiran dan kebijaksanaannya selalu dalam tuntunan Tuhan. Mungkin dalam prosesnya, jika pemimpin tersebut tidak meminta tuntunan Tuhan, bisa sering terjadi permasalahan dalam proses pembagian tersebut.
Sebaliknya masyarakat juga harus mendoakan pemimpinnya agar pemimpin tersebut diberikan kebijksanaan dan hati yang takut akan TUhan dan selanjutnya bisa berbuat atau bertindak yang adil bagi seluruh masyarakat. Untuk tunduk kepada otoritas tertentu seringkali sulit. Akan tetapi setiap orang harus sadar bahwa setiap pemerintahan itu berasal atau seijin Tuhan, sejahat dan sejelek apapun pemerintahan/pimpinan itu. Tunduk pada otoritas itu tugas berat juga, sama beratnya dengan tugas menjadi pemimpin, atau tukang bagi-bagi.