Besi yang Bengkok

Jalan-jalan Tuhan tidak terselami.

Kemalangan yang dirasakan sebagai kesialan, ternyata memang bagian dari rencana Tuhan untuk meringankan beban penderitaan anak-anakNya. Beban penderitaan yang harus ditanggung manusia sebagai konsekuensi dari ketidaksempurnaan upayanya untuk berbuat kebaikan.

Ia mengajarkan anak-anaknya bahwa untuk mencapai tujuan dan hasil yang baik, harus dilakukan dengan upaya dan usaha yang sempurna.

Ketidakmampuan kıta untuk berbuat kebaikan dengan langkah-langkah baik yang sempurna merupakan kecelaan di mataNya: kemelesetan; hamartia; dosa itu sendiri.

Akan tetapi, Ia yang Maha Baik, selalu menuntun anak-anakNya ke jalan-Nya yang baik. Jalan yang ujungnya adalah kelegaan dan pemahaman akan kebaikan dan kesempurnaan yang hakiki.

Sekarang aku paham, manusia hanya bisa terus berupaya untuk sempurna, terus dan terus berupaya. Upaya manusia yang tidak sempurna, akan disempurnakan oleh Tuhan sendiri. Terkadang bukan dengan capaian yang sempurna, tapi melalui pemahaman manusia yang disempurnakan oleh Tuhan, untuk memandang bahwa segala upaya manusia yang tidak sempurna dalam melakukan kebaikan, yang dilakukannya dengan hati yang tulus untuk menyenangkan Tuhannya, akan dibalaskan oleh Tuhan dengan kelegaan dalam penyerahan diri yang sempurna akan kehendak Tuhan.

Kesempurnaan pemahaman, yang terkadang sesederhana pemahaman bahwa tidak semua besi yang bengkok harus diluruskan. Jika memang besi yang bengkok itu tidak bisa lagi di luruskan, berarti Tuhan memang membiarkan besi yang bengkok itu tetap ada untuk menjadi perbandingan, bagaimana kesempurnaan dan keindahan sebuah besi yang lurus.

Tinggalkan komentar