Akhir dari kata Maaf

Ketika kita melakukan suatu kesalahan yang berakibat buruk kepada diri kita sendiri biasanya kita baru kemudian merasa menyesal. Seperti pepatah penyesalan selalu datang terlambat, itulah keterbatasan manusia yang tidak maha tahu. “Jika saya tahu hasilnya akan begini, saya tidak akan begitu!”. kita tidak tahu bahwa banyak situasi dan kondisi di luar diri kita yang mempengaruhi tindakan yang kita ambil sehingga hasil akhirnya sering kali tidak sesuai dengan prediksi kita.

Yang menjadi penting saat ini ialah bagaimana kita menindaklanjuti sebuah perbuatan yang salah yang telah merugikan orang-orang disekitar kita. Sering kali kita melihat simplifikasi penyelesaian melalui sebuah “pernyataan maaf”. Dalam berbagai kasus yang viral di media sosial belakangan ini sering kita dengar penyelesaian dengan meterai 10 ribu rupiah, atau pernyataan maaf melalui wawancara ekslusif dari para tokoh besar yang kemudian disiarkan di media pembagi video seperti youtube, instagram, tiktok dan lain-lain. Akan tetapi apa yang sebenarnya dituntut oleh masyarakat yang telah dirugikan?

Sebenarnya permintaan maaf itu akan diterima oleh orang-orang yang telah dirugikan jika permintaan maaf itu diikuti dengan perubahan sikap hati dari si peminta maaf. Setidaknya ada dua sikap hati yang bisa kita lihat dari sebuah permintaan maaf, yang pertama ialah sikap hati menyesal, dimana orang itu benar-benar merasakan bahwa perbuatannya tidak baik karena telah merugikan orang lain. Sikap hati yang menyesal ini baik, akan tetapi tetap masih kurang, karena menyesal saja tidak cukup. Dari sini, kita harus melangkah ke sikap hati yang kedua yaitu bertobat. Sikap hati yang bertobat ialah sikap hati yang mengetahui bahwa sebuah tindakan itu tidak baik dan merugikan orang lain dan juga merugikan diri sendiri, oleh sebab itu dengan kesadaran diri berusaha berbalik dari jalan-jalan atau pemikiran diri yang membawa kita ke arah perbuatan yang salah itu.

Pada intinya sikap hati bertobat itu ialah sikap hati yang berusaha berbalik 180 derajat dari posisi sebelumnya yang mengakibatkan sebuah kesalahan yang kita sesali telah kita perbuat. Titik balik itu haruslah dibuktikan dengan perbuatan nyata, sehingga dari perubahan sikap hati akan terlihat perubahan sikap tindak. Jika seseorang berkata menyesal dan meminta maaf akan tetapi dalam tindak tanduk atau perilaku sesudahnya tidak tercermin sebuah titik balik perubahan sikap hati itu maka kita bisa simpulkan bahwa penyesalannya dan maafnya tidak berakhir pada pertobatan. Sebaliknya jika kita melihat adanya perubahan sikap tindak yang 180 derajat dari sebelumnya, maka kita bisa simpulkan bahwa bahwa penyesalan dan permintaan maafnya benar-benar tulus karena akhirnya ada pertobatan dari kesalahan.

Tinggalkan komentar