Di paruh pertama hidupku, di masa mudaku, aku berpikir bahwa “I am something”. Aku memiliki potensi yang besar. Aku akan mendapatkan semua hal yang aku inginkan asalkan aku bekerja giat, karena aku memiliki kapabilitas dan semangat untuk mengejar cita-citaku.
Akan tetapi jalan kehidupan menunjukkan berbagai tantangan yang menghajarku bertubi-tubi. Di antara kejayaan, banyak terjadi kejatuhan. Jatuh bangun, yang seakan-akan hendak mengajari bahwa ada faktor-faktor lain selain kekuatan dan kemampuan yang harus di perhatikan. Perjalanan hidup diparuh kedua ini mengajariku bahwa “I am nothing”.
Kesadaran ini, bahwa aku bukanlah apa-apa, mengantarkan pada paruh, yang seharusnya adalah paruh final pada hidup setiap manusia. Paruh dimana kita menyadari bahwa “God is everything”. Tanpa perkenanNya kita manusia tidak bisa apa-apa. “We are nothing without God”.
Apapun yang kita kerjakan, semuanya menuju suatu hasil sesuai dengan kebaikan rancanganNya.
Because God is everything, we must seek His will and plan. To live by God’s will and plan.