Statement cermat di media

Siapa lagi kalau bukan Yth. Bupati Garut, Aceng Fikri, yang hari-hari ini menjadi sorotan infotainment karena kasus kawin sirinya yang berakhir sangat singkat. Yang menjadi sorotan saya bukanlah masalah kawin sirinya, bukan pula masalah keluarganya, akan tetapi masalah bagaimana seorang bupati yang notabene adalah seorang pejabat negara dan publik figur menghadapi serbuan wartawan infotainment.

Sebagai seorang publik figur Aceng terlalu banyak mengeluarkan ‘statement’ yang kontroversial dan tanpa filter ketika wawancaranya mengenai kasus pernikahan sirinya. Dan sudah sebagai mana mestinya wartawan, berita-berita atau statement kontroversial tersebut adalah sumber berita yang paling menarik. For media bad news is good news’  

Hal ini terbukti dengan dipanggilnya beliau oleh Gubernur Jawa Barat. walaupun tidak pasti apa saja yang dibicarakan.

Sebagai pejabat publik di era keterbukaan dan era pilkada atau pemilu langsung, kehidupan pribadi seseorang akan mempengaruhi nilai kredibiltasnya dalam menjalankan tugasnya atau elektibilitasnya pada pemilihan berikutnya. Seorang pemimpin yang baik adalah harus berfungsi sebagai role model bagi bawahannya atau konstituennya.

Sebagian kita mungkin masih ingat kasus perselingkuhan presiden Amerika Serikat Bill Clinton  dengan Monica Lewinski. Pada saat itu Bill Clinton mendapat kecaman dari rakyatnya, bahkan menuai cemoohan dari seluruh dunia, akan tetapi ia menghadapinya dengan tenang. Ia (yang pasti dibantu oleh seluruh staff kepresidenan) mempersiapkan seluruh jawaban setiap pertanyaan dengan cermat, sehingga tidak menimbulkan kontroversi yang lebih parah bagi kepresidenannya. Media Amerika menyebut bahwa setiap statement Clinton tersusun rapi (carefully worded) dan akhirnya menghindarkan dia dari tuntutan pengadilan dan ancaman impeachment dari parelemen Amerika.

Keluar dari kasus esek-esek pejabat, kita juga memiliki pengalaman menarik pada saat kepresidenan Gus Dur mengenai masalah statement-statement kontrovesial. Banyak orang mengatakan bahwa Gus Dur adalah presiden yang hebat akan tetapi statement-statement kontroversial yang sering ia lontarkan sangat destruktif bagi stabilitas politik nasional.  Gus Dur memang begitu, banyak statement dan pidatonya tidak disusun terlebih dahulu, semuanya spontanitas. Akan tetapi spontanitasnya bukan tong kosong nyaring bunyinya. Everything was carefully designed in his beautiful great mind. Sehingga Indonesia butuh seorang Wimar Witoelar sebagai juru bicara kepresidenan untuk menjelaskan maksud statement Gus Dur agar bisa dimengerti oleh rakyat indonesia dengan lebih baik.

Lain Gusdur, Lain juga dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Cara-Cara SBY terkesan sama dengan cara-cara Soeharto mengeluarkan statement di media, tersusun rapi dan dengan pemilihan diksi yang cermat. Walaupun terkesan formal atau sekedal formalitas, statement-statement mereka jarang sekali menimbulkan gejolak politik di Indonesia.

Hanya imbauan bagi segenap pejabat negara dan publik figur di republik ini agar selalu hati-hati dalam memberikan statement di media.

Tinggalkan komentar