Modus Penipuan via telepon

Beberapa hari yang lalu ditengah hiruk pikuk sekeluarga mempersiapkan pesta pernikahan kakak ada telepon yang mengabarkan bahwa seorang adik sepupu mengalami kecelakaan di sekolahnya dan sedang dalam perawatan di rumah sakit. Orang diujung telepon sana meminta sejumlah uang untuk biaya tindakan emergency di rumah sakit tersebut. Katanya tanpa biaya tersebut pihak rumah sakit tidak mau mengambil tindakan dan tanpa tindakan tersebut nyawanya akan terancam. Segala upaya dilakukan untuk mengecek. Keberadaan adik sepupu tersebut, handphone miliknya ditelepon berkali-kali akan tetapi tidak diangkat, sementara tidak orang yang disuruh mengecek ke rumah sakit dan sekolahnya masih belum sampai ditempat tujuan. Alhasil karena kepanikan uang pun ditransfer ke rekening penelepon. Setelah sekitar setengah jam baru ada laporan bahwa ybs baik-baik saja, sedang ujian disekolahnya oleh karena itu tidak bisa mengangkat panggilan telepon.

Sudah banyak yang menjadi korban penipuan via telepon yang memanfaatkan unsur kepanikan korban. Selain modus kecelakaan ada juga modus menang undian, dan juga modus penangkapan sanak family terkait masalah narkoba. Semuanya ini bersumber dari ketidakjelasan dan ketidak pastian dari jaminan sosial dan kepastian hukum dinegara ini.

Fokus kemasalah penipuan kecelakaan dan permintaan uang untuk tindakan emergency dirumah sakit, sangat disayangkan bahwa kelemahan sistem jaminan sosial dinegara kita memberikan celah bagi para penipu. Memang sudah seharusnya bahwa fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus melayani siapa saja yang masuk IGD terlepas dari apakah orang tersebut punya uang atau tidak, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang yang dibawa ke IGD akhirnya “lewat” karena tidak dilakukan tindakan emergency yang sepatutnya hanya karena alasan uang.

Penipuan menggunakan modus ini akan pada akhirnya menghilang jika sistem jaminan sosial kesehatan di republik ini diperbaiki. Tanpa sistem jaminan sosial yang baik, memang pihak rumah sakit akan tetap seperti kondisi saat ini.

Akan tetapi jika setiap rumah sakit kembali ke fungsi awalnya melayani masyarakat dan bukan semata mencari keuntungan, dan setiap IGD kembali mengutamakan pentingnya nyawa manusia dibandingkan operational cost, maka masyarakat tidak akan lagi terjerat tipu daya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang mencoba memanfaatkan kepanikan orang.

Tinggalkan komentar